"There's a love less defined, and it's yours and it's mine,
Like the sun.
And at the end of the day, we should give thanks and pray,
to The One, to The One".
Rod Stewart, 'Have I told you lately...',~
MEDIA suka melebih-lebihkan; tetapi, supporters: memang berlebihan! Di sebuah situs media on-line, disediakan ruang komentar bagi pembaca. Ada sebuah komentar menarik, ditulis seorang (supporter) perempuan, "Jerman bermain antiklimaks dan babak final guru (Belanda) ditantang murid (Spanyol)", singkat dan menyengat!
Bagaimana sepak bola bisa diasosiasikan sebagai pertandingan guru lawan murid? Saya tak ingin merinci, sebab para "akademisi bola" yang ada di Eropa pasti punya setumpuk jawab. Ada klimaks, ada anti klimaks; seperti halnya ada tesis, ada pula antitesis. Dunia memang tak selalu tampak licin mengkilap seperti kelereng. Dan, bola jelas bukan sekolah yang selalu necis dengan tata krama dan doktrin ilmiah yang amat baku: kaku. Spanyol, minimal membuktikan hal itu.
Kemarin, banyak pejabat di negeri ini yang sibuk menggagas "Reformasi Bola" seperti di Jerman, seperti sekolah sepak bola disana. Sebelumnya, di babak grup, amat banyak bahkan yang menjagokan Inggris. Televisi merekam komentar mereka, ada-ada saja alasannya: "sebab, kita dihibur oleh tontonan Premier League; sebab, Inggris bermain spartan; sebab, Inggris adalah Ibu dari sepak bola", dan banyak sebab lain. Satu sebab lain itu, Inggris dipulangkan Jerman! Dari sini terlihat jelas, betapa sembrononya kita; asal komentar, sebab disorot media. Asal bunyi, sebab di hadapan murid-murid; para makhluk—yang seolah batu-kayu—tanpa sungut. Seperti massa-rakyat "tanpa kuasa", tanpa perlawanan. Atau tanpa inspirasi?
Komentar supporter perempuan tersebut, barangkali merefleksikan satu hal sederhana. Segala sesuatu memiliki titik balik! Bagaimana permainan bisa jadi antiklimaks; tanpa premis, dan tanpa konklusi? Jerman toh telah berhasil dalam "Reformasi Bola", mengapa masih ada saja antiklimaks? Bisa muncul amat banyak argumentasi tentu saja, bahkan bila perlu, bikin: Seminar Nasional! Egil Olsen, pelatih Timnas "The Viking" Norwegia, adalah contoh "akademikus bola sejati" yang melupakan daya jelajah nenek-moyangnya mengarungi samudera raya. Sebagai "profesor bola", filosofinya adalah, "kami tidak memiliki para pemain berbakat yang mampu mengalahkan tim-tim unggulan, tetapi kami punya data statistika", tentu saja plus—minus daftar presensi 75%, keaktifan diskusi kelas, textbooks yang mutlak dibaca pemain, dan seterusnya.
Dengan begitu, sepak bola memang hendak diperlakukan sebagai sekolah. Seperti sedang menempuh kuliah, berjenjang sampai meraih doktoral. Bukan mustahil memang, Jerman telah merintis jalan ke arah itu. Tetapi, bagaimana dengan Indonesia? Di kampus-kampus yang amat terkenal sebab dosen-dosennya yang mangkir ngajar, tapi sibuk mengejar proyek di luaran; kita temukan amat banyak mahasiswa yang lebih sibuk mencermati sinetron dan dugem, ketimbang membolak-balik kamus bahasa Indonesia. Tidak berhenti sampai di situ, di kalangan birokrat, termasuk birokrat kampus, kita tahu: amat banyak dana subsidi pendidikan yang diembat untuk kantong sendiri. Hasilnya jelas, kampus boleh terlihat mentereng dari penampilannya, tapi amat kering tanpa fasilitas meja karambol, barangkali; untuk mengistirahatkan penat jemari dari kerja menumpuk lipatan lemak sebab sibuk chatting. Inilah, barangkali yang disebut: antiklimaks!
Sains Bola: "Apakah Cinta Perlu Definisi?"
Benarlah komentar banyak pihak bahwa, "ternyata sains bola tidak mati, tapi hidup", atau ada yang gembira melihat seorang pemain seperti Carlos Tevez, stricker Argentina yang spartan bertarung sendiri di pertahanan lawan, tapi kalah melawan satu resimen. Atau, "Jerman akan menghadapi 'batu besar' Spanyol". Semuanya menyatakan cinta! Jadi, perlukah definisi?
Hasil akhir pertandingan semalam, Jerman versus Spanyol telah membalikkan ramalan banyak pengamat; "akademisi, politisi, selebriti bola", dan bandar judi! Tentang sains dan ilmu bola, saya satu ingat tulisan Sindhunata (Kompas, 9/6/1998) tentang 'Kesebelasan Para Penyair', 'Penyerang tengah the dream team itu, masing-masing adalah penyair besar Goethe dan Dante. Maklum, Goethe sangat rajin. Katanya, "lebih baik lari daripada bermalas diri." Kerajinan pemain lapangan tengah itu dilengkapi keuletan dan keperkasaan yang dibayangkan oleh Dante dalam Infernale Firenze: "Yang satu roboh, yang lain tegak, megah. Dengan kepala, dengan kaki, ia meloncat, ia bertahan dengan menaruh kepala pada kakinya."
Metafor di atas, ternyata bukan impian tentang sains bola semata, melainkan telah berlaku dan beroperasi di dalam "Reformasi—sains bola—Jerman" di Piala Dunia 2010. Jerman tampil trengginas. Tentu saja, "mesin diesel" tak bisa langsung panas, ada kekalahan juga saat bertemu Serbia di Port Elizabeth. Sains bola itu kembali diuji saat menjamu Spanyol tadi malam. Tubuh yang perkasa, jangkauan yang panjang dan penguasaan lapangan yang nyaris sempurna; bahkan, kepercayaan diri yang membubung, sebab menghancurkan Argentina 4-0. Nyaris tak ada cela bila dihadapkan dengan David Villa dan kawan-kawan. Seperti melawan Goliath!
Sebab, bila melirik "diktat bola", narasi itu adalah ulangan partai Final Piala Eropa 2008. Dibanding Jerman, dalam stastistika mengangkat trophy bola, Spanyol bukan tandingannya. Jerman 3 Juara Eropa (1972, 1980, 1996), dan 3 kali kali Juara Dunia (1954, 1974, 1990). Tapi, Spanyol? Baru 2 kali Juara Eropa (1964, 2008) dan, belum pernah Juara Dunia. Prestasi terbaik yang diukir adalah posisi keempat pada Piala Dunia 1950, di Brasil.
Tapi, sains dan statistika ternyata masih butuh seni. Dalam perjumpaan yang relatif hampa semalam, dunia melihat panggung yang melompong, meski El Matador unggul mengatasi Die Mannschaft, 1:0. Tidak perlu mengatakan, "Satu David atau Puyol lawan Sebelas Goliath", bila yang tinggal hanya tonil yang kosong. Lantas dimana kreativitas, hilang kemana sense manusia yang bermain, dan sensasi yang didengungkan media? Manusia, sekali lagi bukan robot! "Pesta Kemanusiaan" yang dirayakan oleh dunia di Afrika Selatan; terancam kehilangan daya kejut pesonanya, ketika bola berhenti sebagai alternatif solusi. Sebab, alternatif butuh kreativitas, dan untuk itu kita perlu sentuhan cinta dari para seniman bola.
Pada Belanda dan Spanyol, kita masih bisa berharap: ada satu-dua sentuhan indah yang tercipta sambil mengiris tipis dan cepat menyayat gawang. Konon, itulah yang namanya klimaks! Sehingga di ujung subuh permainan nanti, kita saling berterima kasih. Seperti kata Rod Stewart, "at the end of the day, we should give thanks and pray", kepada Sang Cinta sejati!*
fur Shasmita, Das ist Fussballspielen!
dari seorang rekan di FANTT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar